November 9, 2017 Vinny Farandy 0Comment

Shopping bagi wanita adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan selain makan. Ya, untuk beberapa wanita, makan masih menduduki peringkat terpenting. Tetapi shopping yang mampu menaikkan mood hingga mengobati patah hati ini malah mampu membuat wanita lebih frustasi dan terpuruk lho, jika tidak hati-hati dalam mengontrol hobi satu ini. Mungkin terdengar kontradiksi, ya? Di satu sisi shopping dapat menghilangkan stres sementara di sisi lain, shopping malah bisa membuat wanita frustasi.

Kebutuhan berbelanja sudah seperti menjadi hal paling dasar dalam hidup seorang wanita. Mulai dari makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga hingga hal besar seperti mobil, rumah dan lainnya. Sudah menjadi kodrat wanita menjadi makhluk yang gamoang tergoda dan sangat konsumtif ketika dihadapkan pada iklan-iklan komersial. Anda bisa lihat iklan di jalan, yang dipajang di mall-mall besar hingga yang sering berseliweran di televisi. Hampir semuanya mempromosikan barang kebutuhan wanita, menggunakan kata-kata rayuan untuk para wanita hingga dibintangi oleh model wanita! Ini karena pelaku pasar tahu, wanita sangat gampang dipengaruhi secara visual maupun audiovisual. Apalagi ketika sosok model iklan ini diceritakan sebagai wanita pekerja pada umumnya hingga ibu rumah tangga seperti layaknya sebagian besar wanita. Maka dengan mudah tujuan iklan itu akan tercapai.

Lalu, apa yang salah dengan shopping? Shopping dengan penghasilan sendiri, dengan kartu kredit sendiri bukanlah dosa bukan? Anda pernah menonton film ‘Confension of a Shopaholic’? Ya, hal seperti itu yang akan terjadi ketika Anda tak mengontrol hobi shopping. Jika di dalam film digambarkan Rebecca mendapatkan bantuan dari seluruh keluarga hingga mampu menghadapi penagih kartu kredit dengan cara yang elegan, di dalam kehidupan nyata, hal itu belum tentu bisa terwujud. Malah mungkin saja yang terjadi sebaliknya. Orang tua atau pasangan Anda kecewa lalu meminta Anda menyelesaikan masalah sendiri. Atau penagih kartu kreditnya sangar dang lincah hingga mampu menemukan Anda dan mempermalukan Anda dengan sangat buruk atau bahkan melaporkan ke polisi. Mengerikan ya? Tentu Anda tak mau hal ini terjadi.

Seperti yang kita lihat pada film, kebanyakan barang yang dibeli Rebecca hanya karena ingin, bukan butuh. Semata-mata karena tergoda diskon menarik hingga melupakan logika. Akibatnya, barang yang belum tentu Anda butuhkan akan menumpuk di rumah dan menjadikan tempat tinggal Anda layaknya toko. Beruntung jika Anda bisa menjual barang-barang tersebut kembali dan melunasi semua hutang seperti pada tokoh film itu. hanya saja, sekali lagi, kehidupan nyata seringnya tak semudah di film.

So, pikirkanlah beberapa kali sebelum Anda memutuskan untuk membeli sesuatu. Terlebih lagi ketika Anda harus berhutang (baca : menggunakan kartu kredit) untuk membelinya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *